Scroll untuk baca artikel
BeritaDaerahNasional

Senator Mirah: Perluasan Kampung Batik Mataram Perkuat Ekonomi Kreatif NTB

×

Senator Mirah: Perluasan Kampung Batik Mataram Perkuat Ekonomi Kreatif NTB

Sebarkan artikel ini

Mataram, katada.id- Perluasan Kampung Batik Kota Mataram yang direncanakan pada 2026 dinilai menjadi langkah strategis. Terutama dalam memperkuat ekonomi kreatif berbasis identitas lokal di NTB. Program itu juga dinilai menjaga keberlanjutan budaya lokal di tengah persaingan produk global.

Anggota DPD RI asal NTB, Mirah Midadan Fahmid, menyambut positif inisiatif Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kota Mataram yang mendorong pengembangan Kampung Batik sebagai bagian dari strategi pembangunan ekonomi kreatif daerah.

“Saya melihat program ini sebagai bagian dari strategi pembangunan ekonomi kreatif daerah yang berkelanjutan, sekaligus upaya menjaga identitas budaya lokal,” ujar Mirah dalam keterangan tertulis, Senin (12/1/2026).

Menurut Mirah sapaan akrabnya, keberhasilan rintisan Kampung Batik di kawasan Selaparang dan Kota Mataram menjadi bukti bahwa batik khas Mataram memiliki potensi ekonomi nyata. Ia menyebut, produksi yang sudah berjalan, keterlibatan perajin lokal, serta partisipasi dalam berbagai bazar menunjukkan bahwa sektor ini dapat berkembang jika dikelola secara konsisten dan terarah.

Namun, Mirah menekankan bahwa perluasan Kampung Batik harus disertai dengan penguatan konsep dan tata kelola yang jelas agar tidak berhenti pada kegiatan seremonial. Ia menilai, penguatan identitas batik khas Mataram menjadi fondasi utama agar produk memiliki daya saing yang kuat di pasar nasional maupun global.

“Perlu riset dan kurasi motif yang merepresentasikan sejarah, alam, dan nilai budaya lokal. Standardisasi narasi dan identitas visual juga penting agar batik Mataram memiliki diferensiasi yang jelas,” katanya.

Mirah mendorong penguatan kelembagaan Kampung Batik melalui pembentukan organisasi yang memiliki tata kelola jelas, termasuk akses permodalan mikro, perlindungan perajin, serta skema insentif berbasis kinerja. Menurutnya, kelembagaan yang kuat akan menjaga keberlanjutan usaha dan mencegah ketergantungan pada bantuan jangka pendek.

Dari sisi sumber daya manusia, Mirah menilai peningkatan kapasitas perajin harus menjadi prioritas. Pelatihan berkelanjutan mulai dari teknik membatik, inovasi desain, manajemen usaha, hingga pengendalian kualitas produk dinilai penting agar batik Mataram mampu menembus pasar yang lebih luas, termasuk segmen premium dan pariwisata.

Ia juga menekankan pentingnya integrasi pemasaran digital dan sektor pariwisata. Kampung Batik, menurut Mirah, perlu dihubungkan dengan ekosistem pariwisata daerah melalui pemanfaatan marketplace, media sosial, serta pengembangan paket wisata edukatif berbasis budaya.

“Kolaborasi antara pemerintah daerah, Dekranasda, perajin, dunia usaha, dan dunia pendidikan menjadi kunci agar program ini benar-benar menjadi investasi ekonomi, sosial, dan budaya jangka panjang bagi NTB,” ujarnya.

Dengan pendekatan yang terintegrasi dan berkelanjutan, Mirah optimistis Kampung Batik Mataram dapat berkembang sebagai pusat ekonomi kreatif sekaligus destinasi budaya yang memperkuat posisi NTB di tengah persaingan global. (*) Mi

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *