Lombok Tengah, katada.id – Terletak di antara Waduk Batujai, Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid, serta pemukiman padat kawasan Praya, Desa Sasake justru menanggung tekanan ekologis yang berat. Aliran sungai yang selama ini menjadi tumpuan hidup warga kini berubah menjadi kuning dan keruh pekat, tercemar limpasan sedimen serta limbah domestik, sehingga mengancam sanitasi, kesehatan kulit, hingga pencernaan warga sehari-hari.
Merespons krisis pasokan air bersih tersebut, tim akademisi dari Kelompok Bidang Ilmu Sumber Daya Air Fakultas Teknik Universitas Mataram menghadirkan solusi sederhana, tanpa listrik, dan sangat terjangkau berupa sistem penjernih air berbasis gravitasi yang diberi nama Down Flow. Dipimpin oleh Prof. Ir. Heri Sulistiyono, M.Eng., Ph.D., tim peneliti terdiri atas Ir. Anid Supriyadi, M.T., Prof. Ir. Yusron Saadi, Ph.D., Pathurahman, S.T., M.T., Prof. Akmaluddin, Ph.D., serta mahasiswa Hardi Pratomo yang tidak hanya memasang alat, tetapi juga menggelar demonstrasi, pelatihan pembuatan mandiri, hingga pengujian mutu air secara langsung di lokasi.
Teknologi ini bekerja menggunakan pipa PVC berdiameter delapan inci yang diisi susunan media penyaring alami secara berurutan dari atas ke bawah, yaitu pasir silika setebal 50 sentimeter, ijuk 20 sentimeter, arang aktif 50 sentimeter, dan kapas 15 sentimeter, di mana seluruh proses penyaringan berjalan mengandalkan gaya gravitasi serta tekanan atmosfer tanpa memerlukan pasokan listrik sedikit pun. Hasil pengujian lapangan maupun analisis di laboratorium membuktikan sistem ini mampu menurunkan kekeruhan air hingga 69,3 persen serta memangkas kandungan zat padat tersuspensi sebesar 84,536 persen, turun dari 145,5 miligram per liter menjadi hanya 22,5 miligram per liter dalam waktu 30 menit sehingga memenuhi standar baku mutu air sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021. Derajat keasaman air berhasil distabilkan pada angka 6,51 sementara kadar oksigen terlarut terjaga di level 6,11 miligram per liter yang masuk dalam kategori mutu air Kelas I, sehingga air hasil penyaringan aman dipakai untuk kebutuhan rumah tangga dan siap dikonsumsi setelah dimasak selama sepuluh menit pada suhu 100 derajat Celcius.
Dari segi biaya, perakitan satu unit alat ini hanya memerlukan modal antara Rp300.000 hingga Rp500.000 dengan biaya pemeliharaan tahunan sekitar Rp50.000, jauh lebih ringan dibandingkan sistem penyaringan air komersial yang harganya dapat melampaui Rp2 juta serta masih membutuhkan daya listrik untuk beroperasi, sehingga warga diperkirakan dapat menghemat pengeluaran pembelian air galon lebih dari Rp900.000 setiap tahunnya.
Inovasi yang didanai dari dana PNBP Universitas Mataram ini turut memberikan dampak langsung pada empat sasaran Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, yaitu menjamin kehidupan sehat dan sejahtera lewat pengurangan risiko penyakit menular lewat air, membuka akses air bersih dan sanitasi yang layak bagi semua lapisan masyarakat, mewujudkan keadilan akses sumber daya tanpa bergantung pada produk komersial yang mahal, serta mendorong pola konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab melalui penggunaan bahan penyaring alami sekaligus pengurangan sampah plastik air kemasan.
”Kegiatan pengabdian ini tidak berhenti pada pemasangan alat saja, melainkan juga disertai pembentukan kelompok kerja warga setempat, penyusunan panduan perakitan mandiri, serta rencana pengembangan berupa penambahan keran pembersihan otomatis pada masa mendatang,” kata ketua Tim Prof. Ir. Heri Sulistiyono diterima wartawan, Kamis (17/9).
Ke depan, sistem penyaringan air berbasis gravitasi ini siap direplikasi ke desa-desa lain di seluruh Nusa Tenggara Barat yang menghadapi permasalahan ketersediaan air bersih serupa, sehingga menjadi warisan kemandirian warga atas akses air bersih mereka sendiri. (*)












