Scroll untuk baca artikel
Pendidikan

Guru Sosiologi Lombok Tengah Ikuti Workshop Pembelajaran Resolusi Konflik yang Humanis dan Partisipatif

×

Guru Sosiologi Lombok Tengah Ikuti Workshop Pembelajaran Resolusi Konflik yang Humanis dan Partisipatif

Sebarkan artikel ini
Ketua tim pengabdian FKIP Unram, Dr. Sumitro, M.Pd (tengah).

Lombok Tengah – Konflik sosial merupakan bagian dari dinamika kehidupan masyarakat yang tidak dapat dihindari, termasuk dalam lingkungan sekolah sebagai ruang interaksi berbagai kelompok sosial. Menyadari pentingnya peran guru dalam membangun kemampuan peserta didik menghadapi perbedaan dan konflik, Program Studi Pendidikan Sosiologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Mataram melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat berupa “Pendampingan Guru Sosiologi SMA Melalui Workshop Pembelajaran Resolusi Konflik yang Humanis dan Partisipatif di Lombok Tengah.”

 Kegiatan yang dilaksanakan di SMA Negeri 1 Praya pada 22 Juni 2026 ini diikuti oleh 30 guru Sosiologi SMA Kabupaten Lombok Tengah. Pelaksanaan kegiatan meliputi penyampaian materi, diskusi interaktif, serta pendampingan pengembangan strategi pembelajaran yang relevan dengan dinamika sosial peserta didik.

 Ketua tim pengabdian FKIP Unram, Dr. Sumitro, M.Pd., menjelaskan bahwa sekolah bukan hanya tempat berlangsungnya proses transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga merupakan ruang sosial tempat peserta didik dengan berbagai latar belakang budaya, ekonomi, pengalaman hidup, dan nilai berinteraksi. Keberagaman tersebut menjadi modal sosial dalam pembelajaran, tetapi juga dapat menjadi sumber potensi konflik apabila tidak dikelola melalui pendekatan yang tepat.

 Dalam perspektif Sosiologi, konflik tidak selalu dipandang sebagai sesuatu yang negatif. Konflik merupakan bagian dari dinamika sosial yang muncul akibat adanya perbedaan kepentingan, nilai, identitas, maupun cara pandang antarindividu dan kelompok. Oleh karena itu, guru perlu memiliki kemampuan untuk mengelola konflik secara konstruktif sehingga dapat menjadi sumber pembelajaran sosial bagi peserta didik. Melalui kegiatan workshop ini, guru diberikan penguatan mengenai konsep konflik sosial, teori resolusi konflik, komunikasi dialogis, serta strategi pembelajaran berbasis kasus sosial. Pendekatan yang diperkenalkan menekankan perubahan paradigma dari penyelesaian konflik yang bersifat represif menuju pendekatan dialogis, restoratif, dan transformatif yang berorientasi pada pemulihan hubungan sosial.

 Selain penguatan konsep, peserta juga mendapatkan pendampingan untuk mengembangkan pembelajaran Sosiologi yang lebih kontekstual. Guru diarahkan untuk mengidentifikasi berbagai fenomena konflik sosial yang dekat dengan kehidupan peserta didik, seperti perbedaan pendapat, keberagaman sosial budaya, konflik antarkelompok, maupun persoalan komunikasi di lingkungan sekolah. Fenomena tersebut kemudian dikembangkan menjadi bahan pembelajaran berbasis studi kasus. Salah satu peserta workshop menyampaikan bahwa pendekatan pembelajaran resolusi konflik memberikan perspektif baru bagi guru dalam mengajarkan materi Sosiologi. Pembelajaran tidak hanya berfokus pada pemahaman konsep konflik, tetapi juga bagaimana peserta didik mampu memahami sudut pandang orang lain, membangun empati, melakukan dialog, serta mencari solusi secara bersama-sama.

 Tim pengabdian menekankan bahwa penggunaan metode studi kasus, diskusi kelompok, simulasi, dan refleksi sosial menjadi strategi penting dalam membangun pembelajaran yang partisipatif. Melalui pendekatan tersebut, peserta didik tidak hanya memahami teori sosial, tetapi juga mengembangkan kesadaran sosial, toleransi, dan kemampuan hidup bersama dalam masyarakat yang plural. Kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) khususnya SDGs 4: Pendidikan Berkualitas (Quality Education). Melalui penguatan kapasitas guru Sosiologi, kegiatan ini mendorong terciptanya proses pendidikan yang inklusif, adil, dan berkualitas dengan menempatkan pendidikan sebagai ruang pembentukan karakter sosial, penghargaan terhadap keberagaman, serta pengembangan keterampilan abad ke-21 seperti berpikir kritis, komunikasi, kolaborasi, dan penyelesaian masalah. Pendekatan pembelajaran resolusi konflik yang humanis dan partisipatif sejalan dengan semangat SDGs 4 dalam menyediakan pendidikan yang mampu membangun masyarakat yang damai, toleran, dan berkelanjutan.

 Dari perspektif Sosiologi, kegiatan ini memperkuat posisi guru sebagai agen perubahan sosial di lingkungan sekolah. Guru tidak hanya berperan sebagai penyampai materi mengenai konflik dan integrasi sosial, tetapi juga sebagai fasilitator yang membantu peserta didik membaca realitas sosial secara kritis, menghargai keberagaman, serta mengelola perbedaan secara damai.

Kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat kapasitas guru Sosiologi dalam menciptakan pembelajaran yang lebih humanis, dialogis, dan responsif terhadap persoalan sosial di masyarakat. Melalui penguatan kompetensi guru, pembelajaran Sosiologi diharapkan mampu berkontribusi dalam membangun budaya sekolah yang inklusif, toleran, dan memiliki kemampuan resolusi konflik yang lebih baik, sekaligus mendukung terwujudnya tujuan pembangunan berkelanjutan melalui pendidikan yang berkualitas.

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *