Scroll untuk baca artikel
Hukum dan Kriminal

Tragis! Ibu di Soromandi Bima Diduga Dianiaya Ayah dan Saudara Kandung, Suami Minta Pelaku Diproses Hukum

×

Tragis! Ibu di Soromandi Bima Diduga Dianiaya Ayah dan Saudara Kandung, Suami Minta Pelaku Diproses Hukum

Sebarkan artikel ini
Foto ilustrasi (istimewa)

Bima, katada.id – Kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) tragis menimpa seorang Ibu Rumah Tangga (IRT) di Desa Wadukopa, Kecamatan Soromandi, Kabupaten Bima. Korban inisial M (32) diduga menjadi korban penganiayaan yang dilakukan oleh ayah kandung dan saudara kandungnya sendiri.

​Tak terima atas perlakuan kasar tersebut, korban didampingi suaminya S, resmi melayangkan laporan pidana ke Polsek Soromandi, Jum’at (5/6) sekitar Pukul 04.00 Wita.

​Peristiwa penganiayaan dilaporkan terjadi pada hari yang sama, Jumat dini hari sekitar pukul 03.00 WITA. Tempat Kejadian Perkara (TKP) berlangsung tepat di halaman rumah korban. Dua orang terduga pelaku yang dilaporkan merupakan keluarga dekat korban, yaitu saudara kandungnya berinisial WAD (41) dan ayah kandungnya berinisial HH (58).

Untuk diketahui Laporan tersebu telah diterima oleh Polsek Soromandi dan ditandatangani langsung oleh Kapolsek Soromandi, Inspektur Polisi Dua (Ipda) Musahidin.

Suami Ungkap Kronologi KDRT

Suami korban mengungkapkan kronologi penganiayaan yang dialami istrinya. Peristiwa bermula saat dirinya baru saja pulang dari kebun jagung sore hari. Sekitar pukul 22.00 WITA, istri dan anaknya mendesak S untuk datang dan menginap di rumah sang istri.

Awalnya, S sempat menolak keras ajakan tersebut. Ia menyadari hubungannya dengan sang mertua sedang tidak harmonis, dan mertuanya melarang S untuk menginjakkan kaki di rumah tersebut. Namun, sang istri terus mendesak bahkan sampai mengambil batu agar S mau ikut.

“Saya terpaksa menuruti keinginan istri, tapi dengan catatan saya hanya duduk di teras rumah. Sementara mertua karena sudah larut malam, dia masuk ke rumahnya sendiri,” ungkap S pada katada.id, Minggu (7/6).

S kemudian masuk ke pekarangan dan meminta izin untuk beristirahat di pojok teras rumah. Sekitar pukul 02.00 WITA, ia meminta bantal kepada istrinya untuk alas tidur di tera

Petaka dimulai sekitar pukul 03.00 WITA. S terbangun karena mendengar suara ketukan pintu dan mendapati mertua laki-lakinya sudah berada di samping rumah. Sang mertua langsung memarahi, mengomel, dan mengusir S agar segera pergi.

“Saya sampaikan bahwa saya tidak menginap di dalam rumah, hanya di teras sembari menunggu waktu Subuh agar langsung pergi ke kebun jagung lagi. Karena tahu saya hanya di teras, dia sempat menurunkan nada bicaranya meminta saya keluar baik-baik. Tapi karena ada dugaan provokasi, suasana tiba-tiba menjadi sangat mencekam,” ujar S.

Situasi langsung berujung anarkis. Saudara laki-laki istrinya yang berinisial WAD (41) tiba-tiba keluar dari dalam rumah dan langsung menyerang istri S secara brutal. Melihat sang istri dihajar di depan matanya, S berusaha melerai.

Dikeroyok Brutal dan Ditendang hingga Tersungkur

Niat S untuk menyelamatkan istrinya justru membuat kemarahan pelaku berbalik kepadanya. WAD langsung menyerang dan menghajar S dengan sangat brutal.

S berusaha menyelamatkan diri dengan berlari menghindar ke arah jalan luar lingkungan rumah. Namun di sana, situasi makin tak terkendali karena sejumlah orang langsung mengepung dan mengeroyoknya.

“Saat itu sejumlah orang mengeroyok saya secara brutal dari arah samping, depan, dan belakang. Saya juga ditendang hingga tersungkur. Bahkan mertua laki-laki saya (H. HUSEIN, 58) ikut memukul saya berkali-kali. Saya hanya bisa menahan pukulan dan sama sekali tidak melawan,” imbuh S dengan nada pilu.

Di saat dirinya dipukuli oleh mertua dan massa, dari kejauhan S melihat istrinya masih terus dianiaya oleh saudara kandungnya sendiri. “Di saat bersamaan, istri saya dihajar oleh saudara laki-lakinya,” kata dia.

Ia juga mengaku bahwa kejadian yang menimpa istrinya dilakukan disaksikan langsung anak.

“Kita khawatir anak itu syok dan trauma,” ungkapnya.

Diduga Telah Direncanakan Sebelumnya

Ketika ditanya mengenai perasaannya saat dikeroyok secara membabi buta, S mengaku sangat ketakutan dan trauma. “Saya sangat khawatir dibunuh saat itu,” ucapnya.

S menduga aksi kekerasan ini bukan terjadi secara spontan, melainkan diduga kuat telah direncanakan dengan matang sebelumnya. Jauh sebelum malam kejadian nahas itu, S mengaku pernah mendengar mertua perempuannya melontarkan ancaman mengerikan. Sang mertua mengancam akan mengundang warga kampung untuk memukuli S jika berani masuk ke rumah istrinya.

Desak Polisi Segera Amankan Para Pelaku

Pasca-kejadian itu dengan sisa tenaga yang ada, S bersama istrinya langsung bergegas menuju Mapolsek Soromandi guna mencari perlindungan dan keadilan hukum. Laporan mereka diterima resmi oleh Kapolsek Soromandi, Inspektur Polisi Dua (Ipda) Musahidin pada pukul 04.00 WITA.

“Tidak berselang lama, kami ke Mapolsek Soromandi untuk melaporkan secara hukum. Kami berharap pihak Kepolisian segera memproses laporan ini secara profesional dan segera mengamankan para pelaku,” tegas S.

Ia juga mengungkapkan bahwa untuk mendukung laporan tersebut Istrinya sudah melakukan Visum. Ia mengaku sangat mengkhawatirkan keselamatan mereka jika para pelaku tidak segera ditindak tegas.

“Kita khawatir hal-hal buruk yang lebih parah terjadi bila kepolisian tidak memproses secara profesional laporan kami,” pungkas S.

Hingga berita ini diturunkan redaksi sedang berupaya mengkonfirmasi Kapolsek Soromandi (*)

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *